Blogger Template by Blogcrowds

Kesimpulan

Dalam laporan keuangan PT Darya Varia jika dilihat dari :

1. Aspek likuiditas, hasil yang diperoleh terlihat bahwa Cash Rationya lebih baik dibandingkan dengan Quick Ratio dan Current Ratio. Hal ini ditunjukkan dengan cash ratio yang dari tahun 2004-2007 semakin meningkat, sehingga kas yang dimiliki oleh perusahaan semakin besar dibandingkan kewajiban lancarnya.

2. Aspek leverage perusahaan berkaitan dengan keputusan pendanaan perusahaan. Dalam aspek ini, terlihat bahwa dari tahun 2004-2007 hasil perhitungannya selalu naik turun dengan sedikit perbedaan yang cukup signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa sumber dana perusahaan lebih banyak berasal dari modal perusahaan itu sendiri sehingga hutang yang lebih sedikit.

3. Aspek efisiensi, perusahaan lebih memanfaatkan asset atau aktivanya untuk membiayai kegiatan operasinya. Namun di sini, dalam hasil perhitungannya diperoleh angka yang naik turun dari tahun 2004-2007. Dalam hal ini kinerja perusahaan kurang efektif karena penjualan asetnya kadang meningkat dan menurun.

4. Aspek profitabilitas, hasil yang diperoleh juga sama saja dengan aspek efisiensi yaitu naik turun. Profitabilitas PT Darya Varia sangat buruk karena profitnya rendah, dimana terus merosot dari tahun 2004-2007 hal ini bila dilihat dari margin laba operasi, pengembalian ekuitas, dan pengembalian aktiva mengalami perubahan yang berubah-ubah.

Dari hasil laporan keuangan PT Darya Varia, dengan hasil perhitungan yang kami peroleh, terlihat bahwa keadaan perusahaan ini tidak begitu baik karena jika dilihat dari kondisi keuangan perusahaan dalam aspek profitabilitasnya yang naik turun dengan tingkat penurunan yang tidak jauh berbeda.

Dengan memperhatikan naik turunnya nilai saham pada perusahaan ini terlihat bahwa pergerakan dari tahun 2004-2007 relatif tidak stabil disebabkan karena pergolakan harga. Hal ini juga akhirnya berdampak pada tidak stabilnya volume perdagangan yang terjadi karena seperti diketahui keduanya bergerak beriringan.
Situasi ini cukup menggambarkan kondisi saham perusahaan yang tidak terlalu baik, sehingga hal ini tentunya akan mempengaruhi keputusan para investor untuk berinvestasi pada perusahaan tersebut.

Di pertengahan tahun 2006-2007 pergerakan saham PT Darya Varia terlihat sangat baik karena pergerakan grafik yang semakin meningkat drastis. Hal ini disebabkan karena pembentukan harga saham terjadi pada permintaan dan penawaran. Salah satu halnya yaitu kinerja perusahaan yang bergerak dengan spesifik.

Di pasar sekunder atau dalam aktivitas perdagangan saham sehari-hari, harga-harga saham mengalami fluktuasi baik berupa kenaikan maupun penurunan. Pembentukan harga saham terjadi karena adanya permintaan dan penawaran atas saham tersebut. Volume merupakan jumlah saham yang diperdagangkan dalam suatu periode. Volume ini berhubungan erat dengan harga saham tersebut, karena jika harga saham tersebut naik, maka volume perdagangan akan meningkat pula, demikian pula sebaliknya. Perbandingan volume perdagangan ini dapat dilihat pada grafik harga saham PT Darya-Varia, Tbk.. Ketika harga saham bergerak naik, maka volume perdagangan akan meningkat pula, sedangkan pada saat harga saham turun maka volume perdagangan akan ikut turun.

Pada tahun 2004 ada pendapatan perseroan dari penjualan saham sebesar Rp34,068 milyar dan meningkatnya pendapatan bunga bersih mendongkrak pos laba bersih. Darya Varia hanya meraih laba bersih Rp 49,810 milyar atau Rp 89 per lembar saham namun tahun 2005 keuntungan menebal 43,7% menjadi Rp 71,576 milyar atau Rp 128 per helai. Jika dilihat dari tabel diatas harga saham menurun dari Rp 775 pada tahun 2003 menjadi Rp 700 pada tahun 2004. Dan volume perdagangan saham juga menurun dari 61,20 juta lembar pada tahun 2003 menjadi 46,56 juta lembar pada tahun 2004.

Grafik pergerakan harga saham dari tahun 2005-2006 mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini disebabkan oleh penjualan yang mengalami pertumbuhan sebesar 6,28% dibandingkan tahun sebelumnya Rp 540,436 milyar. Jumlah ekuitas naik menjadi Rp390,603 milyar dari Rp319,027 milyar. Perusahaan berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 32% menjadi Rp 71,576 milyar dibandingkan dengan periode tahun lalu. Selain itu, penjualan perusahaan mencapai Rp 540,436 milyar atau dibandingkan tahun sebelumnya Rp 426,796 milyar. Berdasarkan harga saham, pada tahun 2005 mengalami kenaikan sebesar Rp 50 dibandingkan pada tahun 2004, karena harga saham mengalami kenaikan maka volume perdagangan saham juga mengalami kenaikan menjadi 50,42 juta lembar.

Peningkatan yang sangat signifikan terlihat pada grafik dari tahun 2006-2007. Bila dikaitkan dengan data keuangan tahun 2006-2007 mengalami penurunan, tetapi volume perdagangan saham mengalami peningkatan. Volume perdangangan saham yang paling tinggi yaitu pada bulan juli 2006 sebesar 522,101 ribu lembar. Namun pada akhir Desember 2006 mengalami penurunan yaitu sebesar 3,159 ribu lembar. Berdasarkan harga saham, pada tahun 2006 mengalami kenaikan sebesar Rp 760 dibandingkan pada tahun 2005, karena harga saham mengalami kenaikan maka volume perdagangan saham juga mengalami selisih kenaikan yang tinggi sebesar 584,92 juta lembar dibandingkan dengan tahun lalu.

Pada grafik di pertengahan tahun 2007 mengalami penurunan yang cukup tajam, hal ini terlihat dari laba selama enam bulan pertama mengalami penurunan. Merosotnya keuntungan perseroan sejalan dengan berkurangnya angka penjualan dan meningkatnya biaya produksi. Darya-Varia hanya meraih angka penjualan sebesar Rp 238,85 milyar dari sebelumnya Rp 265,64 milyar. Sementara itu biaya produksi yang ditanggung membengkak menjadi Rp 89,71 milyar dari Rp 86,50 milyar sehingga laba usaha menurun drastis menjadi Rp 20,48 milyar dari sebelumnya Rp38,36 milyar. Berdasarkan harga saham, pada tahun 2007 mengalami penurunan yang tajam sebesar Rp 90 dibandingkan pada tahun 2006, karena harga saham mengalami penurunan, maka volume perdagangan saham juga mengalami selisih penurunan yang drastis sebesar 601,52 juta lembar.

Analisis Keuangan Perusahaan

1. Aspek Likuiditas

Likuiditas perusahaan adalah kemampuan perusahaan untuk mendapatkan obligasi utang bernilai (utang jangka pendek) dan kemampuan untuk mengubah piutang usaha dan persediaan ke dalam bentuk kas. Pengukuran likuiditas dapat dilakukan dengan menggunakan ukuran rasio lancar (current ratios), yaitu dengan membandingkan kas dan aktiva yang dapat diubah dalam bentuk kas (aktiva lancar) dimana kewajiban jatuh tempo dan akan dibayar pada tahun itu juga (kewajiban lancar). Selanjutnya pengukuran liquiditas dapat menjadi terfokus dengan mengeluarkan unsur persediaan, yaitu rasio cepat (quick ratios) dengan membandingkan Aktiva lancar setelah dikurangi persediaan dengan kewajiban lancar. Rasio kas (Cash ratio) yaitu membandingkan kas dengan kewajiban lancar.

Berdasarkan hasil perhitungan yang telah kami lakukan, terlihat sebagai berikut :

LIKUIDITAS

2004

2005

2006

2007

CURRENT RATIO

3.8611

3.5022

4.6928

5.3625

QUICK RATIO

3.038

2.891

3.9326

4.4585

CASH RATIO

1.2775

1.4852

1.9453

2.1845

Dari hasil di atas terlihat bahwa Current Ratio dan Quick Ratio pada tahun 2004-2005 mengalami penurunan. Namun di tahun 2005-2007 mengalami peningkatan. Sedangkan Cash Ratio mengalami peningkatan dari tahun 2004-2007. Dalam hal Likuiditas PT Darya Varia lebih baik dalam Cash Ratio dibandingkan dengan Quick Ratio dan Current Ratio.

2. Aspek Leverage

Leverage ratio memperlihatkan berapa hutang yang digunakan perusahaan. Aspek leverage perusahaan berkaitan dengan keputusan pendanaan perusahaan. Untuk mendanai perusahaan dapat menggunakan dua ratio, meskipun sebenarnya banyak lagi yang bisa digunakan. Pertama, rasio utang (debt ratios) adalah persentase asset perusahaan yang dibiayai oleh utang jangka panjang. Kedua, rasio ekuitas (equity ratios) adalah persentase asset perusahaan yang akan dibiayai oleh ekuitas perusahaan (hak kekayaan). Ketiga, Debt to equity ratio adalah persentase hutang perusahaan yang dibiayai oleh ekuitas perusahaan.

Berdasarkan hasil perhitungan yang telah kami lakukan, terlihat sebagai berikut :

LEVERAGE

2004

2005

2006

2007

Debt ratio

0.26

0.2906

0.2602

0.1759

Equity ratio

0.7399

0.7093

0.7397

0.8242

Debt to equity ratio

0.3515

0.4096

0.3517

0.2135

Debt Ratio di tahun 2004-2005 mengalami kenaikan disebabkan asset perusahaan yang dibiayai oleh utang mengalami kenaikan. Namun di tahun 2005 -2007 semakin menurun menunjukkan utang perusahaan semakin berkurang. Equity Ratio dari tahun 2004-2005 mengalami penurunan dan di tahun 2005 sampai 2007 mengalami peningkatan. Debt to equity ratio dari tahun 2004-2005 mengalami kenaikan dan di tahun 2005 sampai 2007 mengalami penurunan.

3. Aspek Efisiensi

Aspek efisiensi perusahaan adalah seberapa baik perusahaan memanfaatkan asset atau aktivanya untuk membiayai kegiatan operasinya. Pengukuran aspek efiiensi dpat dilakukan dengan beberapa pengukuran. Pengukuran pertama, average collection period (periode penagihan rata-rata) menandakan seberapa cepat perusahaan menagih kreditnya yang dikukur oleh rata-rata jumlah dari penagihan piutang dagang. Pengukuran kedua, perputaran piutang usaha (account receivable turnover) menunjukan seberapa cepat perusahaan menagih kreditnya yang diukur oleh lamanya waktu piutang usaha ditagih.

Pengukuran ketiga, perputaran persediaan (inventory turnover) menandakan likuiditas relatif inventori, yang diukur oleh berapa kali penggantian persediaan perusahaan selama tahun tersebut. Pengukuran keempat, perputaran total aktiva (total assets turnover). Rasio ini menunjukan sebarapa efisien perusahaan menggunakan aktivanya untuk menghasilkan penjualan. Pengukuran kelima, perputaran aktiva tetap (fixed assets turnover), rasio ini menunjukkan seberapa besar aktiva tetap yang digunakan untuk menghasilkan penjualan. Pengukuran keenam, OIROI yaitu seberapa besar pengaruh dari pendapatan operasi terhadap total aset perusahaan.

Berdasarkan hasil perhitungan yang telah kami lakukan, terlihat sebagai berikut :

EFISIENSI

2004

2005

2006

2007

Average collection period

93.0206

94.4944

97.0367

98.393

Account receivables turnover

3.9238

3.8626

3.7614

3.7096

Total asset turnover

0.9898

0.9709

1.0346

0.9083

Inventory turnover

2.4597

2.6988

2.9935

2.7039

Fixed asset turnover

4.259

5.0289

5.5426

4.7295

OIROI

0.1856

0.1384

0.1408

0.1206

Average collection period mengalami kenaikan dari tahun 2004-2007. Account receivables turnover mengalamai penurunan dari tahun 2004-2007 yang berarti bahwa pihak manajemen sudah efektif dalam melakukan penagihan piutang. Total asset turnover mengalami kenaikan dan penurunan. Hal ini menunjukkan manajemen tidak efisien dalam penggunaan aktiva perusahaan untuk menghasilkan penjualan. Inventory turnover mengalami kenaikan 2004-2006 disebabkan karena perusahaan mengalami kelebihan persediaan, sedangkan dari tahun 2006-2007 mengalami penurunan. Total Asset turn over dan Inventory turn over terus menurun hal ini menunjukkan bahwa kedua aktiva ini tidak dikelola dengan baik dan akibatnya OIROI menjadi rendah.

4. Aspek Profitabilitas

Aspek profitabilitas berkaitan dengan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan (profit). Pengukuran aspek ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya adalah margin laba operasi (operating profit margin) adalah variable yang sangat penting dalam memahami profitabilitas perusahaan dan pengembalian equitas saham biasa (return on equity / ROE) menunjukkan tingkat pengembalian ekuitas adalah tingkat pengembalian yang diharapkan oleh pemegang saham biasa atas investasi yang ditanamkan, tingkat pengembalian ekuitas ini menunjukkan resiko yang ditanggung oleh pemegang saham. Margin laba operasi menunjukan kefektifan manajemen dalam mengelola laporan keuangan perusahaan atau kemampuan perusahaan untuk mempertahankan biaya dan beban yang berhubungan dengan penjualan.

Berdasarkan hasil perhitungan yang telah kami lakukan, terlihat sebagai berikut :

PROFITABILITY

2004

2005

2006

2007

OPM

0.19%

0.14%

0.14%

0.13%

NPM

0.12%

0.13%

0.09%

0.10%

ROE

0.16%

0.18%

0.12%

0.11%

ROA

0.12%

0.13%

0.09%

0.09%

EPS

89%

128%

94%

89%

Operating Profit Margin mengalami penurunan tiap tahun hal ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak menunjukkan kinerja yang baik dalam mengelola aktivitas operasi perusahaan. ROA mengalami kenaikan di tahun 2004-2005 menunjukkan perusahaan menggunakan aktiva dengan efisien dan di tahun 2005-2007 tidak mengalami perubahan yang signifikan. ROE mengalami kenaikan di tahun 2004-2005 disebabkan oleh pengembalian ekuitas saham terus meningkat menunjukkan bahwa resiko pengembalian ekuitas saham yang ditanggung oleh pemegang saham semakin besar, sedangkan di tahun 2005-2007 mengalami penurunan.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda